Al Imam Ali bin Hasan al Aththas mngatakan :
ﺍﻥ ﺍﻟﻤﺤﺼﻮﻝ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﺍﻟﻔﺘﺢ ﻭﺍﻟﻨﻮﺭ ﺍﻋﻨﻲ ﺍﻟﻜﺸﻒ ﻟﻠﺤﺠﺐ، ﻋﻠﻰ ﻗﺪﺭ ﺍﻻﺩﺏ ﻣﻊ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻭﻋﻠﻰ ﻗﺪﺭ ﻣﺎ ﻳﻜﻮﻥ ﻛﺒﺮ ﻣﻘﺪﺍﺭﻩ ﻋﻨﺪﻙ ﻳﻜﻮﻥ ﻟﻚ ﺫﺍﻟﻚ ﺍﻟﻤﻘﺪﺍﺭ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺷﻚ
" Memperoleh ilmu, futuh dan cahaya (maksudnya terbukanya hijab2 batinnya), adalah sesuai kadar adabmu bersama gurumu. Kadar besarnya gurumu di hatimu, maka demikian pula kadar besarnya dirimu di sisi Allah tanpa ragu ".(al Manhaj as Sawiy : 217)
Imam Nawawi ketika hendak belajar kepada gurunya, beliau selalu bersedekah di perjalanan dan berdoa, " Ya Allah, tutuplah dariku kekurangan guruku, hingga mataku tidak melihat kekurangannya dan tidak seorangpun yg menyampaikan kekurangan guruku kepadaku ". (Lawaqih al Anwaar al Qudsiyyah : 155)
Beliau pernah mengatakan dalam kitab At Tahdzibnya :
ﻋﻘﻮﻕ ﺍﻟﻮﺍﻟﺪﻳﻦ ﺗﻤﺤﻮﻩ ﺍﻟﺘﻮﺑﺔ ﻭﻋﻘﻮﻕ ﺍﻻﺳﺘﺎﺫﻳﻦ ﻻ ﻳﻤﺤﻮﻩ ﺷﻲﺀ ﺍﻟﺒﺘﺔ
" Durhaka kepada orang tua dosanya bisa hapus oleh taubat, tapi durhaka kepada ustadzmu tidak ada satupun yg dapat menghapusnya ".
Habib Abdullah al Haddad mengatakan " Paling bahayanya bagi seorang murid, adalah berubahnya hati gurunya kepadanya. Seandainya seluruh wali dari timur dan barat ingin memperbaiki keadaan si murid itu, niscaya tidak akan mampu kecuali gurunya telah ridha kembali ". (Adaab Suluk al Murid : 54)
Seorang murid sedang menyapu madrasah gurunya, tiba2 Nabi Khidir mendatanginya. Murid itu tidak sedikitpun menoleh dan mengajak bicara nabi Khudhir. Maka nabi Khidhir berkata, " Tidakkah kau mengenalku ?. Murid itu menjawab, " ya aku mengenalmu, engkau adalah Abul Abbas al Khidhir ".
Nabi Khidhir, " kenapa kamu tidak meminta sesuatu dariku ?".
Murid itu menjawab, " Guruku sudah cukup bagiku, tidak tersisa satupun hajat kepadamu ". (Kalam al Habib Idrus al Habsyi : 78)
Al Habib Abdullah al Haddad berkata, " Tidak sepatutnya bagi penuntut ilmu mengatakan pada gurunya, " perintahkan aku ini, berikan aku ini !", karena itu sama saja menuntut untuk dirinya. Tapi sebaiknya dia seperti mayat di hadapan orang yg memandikannya ". (Ghoyah al Qashd wa al Murad : 2/177)
Para ulama ahli hikmah mengatakan, " Barangsiapa yang mengatakan " kenapa ?" Kepada gurunya, maka dia tidak akan bahagia selamanya ". (Al Fataawa al Hadiitsiyyah : 56)
Para ulama hakikat mengatakan, " 70% ilmu itu diperoleh sebab kuatnya hubungan ( batin,adab dan baik sangka )antara murid dengan gurunya ".
Semoga kita semua termasuk murid yang baik dan mendapat berkah dari guru kita
ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺁﻣﻴﻦ
Oleh Ustadz Toha Mahsun
SLIDE POTO
Sabtu, 11 Agustus 2018
TANAMKAN DIHATIMU KECINTAAN KEPADA ULAMA
Seseorang bertanya kepada Imam Hasan Al Basri ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠّـﮧ ﻋﻨﮧ , Seorang Ulama Sufi pada generasi Salaf
ﺳﺄﻝ ﺭﺟﻞ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺍﻟﺒﺼﺮﻱ ﻓﻘﺎﻝ ﻳﺎ ﺇﻣﺎﻡ ﺩﻟﻨﻲ ﻋﻠﻰ ﻋﻤﻞ ﻳﻘﺮﺑﻨﻴﺎﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻳﺪﺧﻠﻨﻲ ﺍﻟﺠﻨﻪ . ﻗﺎﻝ ﺍﺣﺐ ﺍﺣﺪ ﺃﻭﻟﻴﺎﺀﻩ ﻋﺴﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻥ ﻳﺘﻄﻠﻊ ﺇﻟﻰ ﻗﻠﺒﻪ ﻓﻴﺠﺪ ﺍﺳﻤﻚ ﻣﻜﺘﻮﺏ ﻓﻴﻪ ﻓﻴﺪﺧﻠﻚ ﻣﻌﻪ ﺍﻟﺠﻨﻪ "
Wahai Imam, tolong beritahukan amalan apa yang bisa membuat aku dekat dengan ALLAH SWT, dan bisa menyelamatkan diriku ditempat terbaik di yaumil akhir (Jannah) ?"
Imam Hasan Al Basri ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠّـﮧ ﻋﻨﮧ menjawab :
"Cintailah para AULIYA atau para ULAMA (orang yang dekat dengan ALLAH SWT) dan berharaplah ketika ALLAH SWT menatap hati para kekasihNYA tersebut, disana tertulis namamu. Dan itu akan membuat ALLAH SWT mengumpulkan engkau bersama mereka di tempat terbaik (Jannah)."
Semoga Nama Kita Selalu Tertulis Di Hati Para Ulama dan Habaib khususnya di Hati SAYYIDINA MUHAMMAD SHOLLALLAHU ALAIHI WASALLAM,,, Amin Ya Robbal 'Alamin.
ﺳﺄﻝ ﺭﺟﻞ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺍﻟﺒﺼﺮﻱ ﻓﻘﺎﻝ ﻳﺎ ﺇﻣﺎﻡ ﺩﻟﻨﻲ ﻋﻠﻰ ﻋﻤﻞ ﻳﻘﺮﺑﻨﻴﺎﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻳﺪﺧﻠﻨﻲ ﺍﻟﺠﻨﻪ . ﻗﺎﻝ ﺍﺣﺐ ﺍﺣﺪ ﺃﻭﻟﻴﺎﺀﻩ ﻋﺴﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻥ ﻳﺘﻄﻠﻊ ﺇﻟﻰ ﻗﻠﺒﻪ ﻓﻴﺠﺪ ﺍﺳﻤﻚ ﻣﻜﺘﻮﺏ ﻓﻴﻪ ﻓﻴﺪﺧﻠﻚ ﻣﻌﻪ ﺍﻟﺠﻨﻪ "
Wahai Imam, tolong beritahukan amalan apa yang bisa membuat aku dekat dengan ALLAH SWT, dan bisa menyelamatkan diriku ditempat terbaik di yaumil akhir (Jannah) ?"
Imam Hasan Al Basri ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠّـﮧ ﻋﻨﮧ menjawab :
"Cintailah para AULIYA atau para ULAMA (orang yang dekat dengan ALLAH SWT) dan berharaplah ketika ALLAH SWT menatap hati para kekasihNYA tersebut, disana tertulis namamu. Dan itu akan membuat ALLAH SWT mengumpulkan engkau bersama mereka di tempat terbaik (Jannah)."
Semoga Nama Kita Selalu Tertulis Di Hati Para Ulama dan Habaib khususnya di Hati SAYYIDINA MUHAMMAD SHOLLALLAHU ALAIHI WASALLAM,,, Amin Ya Robbal 'Alamin.
LISANMU ADALAH GAMBARAN APA YANG TERSIMPAN DI DALAM HATIMU
ﺴﺎﻧﻚ ﻳﻌﺒِّﺮ ﻋﻤﺎ ﻓﻲ ﻗﻠﺒﻚ ..
Lisan-mu adalah gambaran dari apa-apa yang tersimpan didalam hatimu
ﻓﻜﻞ ﻛﻠﻤﺔ ﺳﻴﺌﺔ ﺩﺍﻟﺔ ﻋﻠﻰ ﺳﻮﺀ ﻓﻲ ﻗﻠﺒﻚ ،
Maka setiap kalimat yang buruk, menunjukkan atas buruknya apa-apa didalam hatimu
ﻛﻞ ﻏﻴﺒﺔ ﺩﻟﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﻇﻠﻤﺔ ﻓﻲ ﻗﻠﺒﻚ ،
Setiap gosip menunjukkan atas gelapnya apa-apa didalam hatimu
ﻛﻞ ﻛﺬﺑﺔ ﺩﻟﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﺳﻮﺀ ﻓﻲ ﻗﻠﺒﻚ ،
Setiap kebohongan menunjukkan atas jeleknya apa-apa didalam hatimu
ﻛﻞ ﻳﻤﻴﻦ ﻛﺎﺫﺑﺔ ﺩﻟﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﻛﺪﺭﺓ ﻭﻭﺳﺦ ﻓﻲ ﻗﻠﺒﻚ ،
Setiap sumpah palsu menunjukkan atas keruh & kotornya apa-apa didalam hatimu
ﻛﻞ ﺳﺐٍّ ﻋﻠﻰ ﺻﻐﻴﺮ ﺃﻭ ﻛﺒﻴﺮ ﺑﻞ ﻋﻠﻰ ﺣﻴﻮﺍﻥ ﺩﻟﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﻇﻠﻤﺔ ﻓﻲ ﻗﻠﺒﻚ ..
Setiap cacian baik atas anak kecil atau-pun orang dewasa bahkan cacian atas hewan sekali-pun menunjukkan atas gelapnya apa-apa didalam hatimu
ﺍﻟﻠﺴﺎﻥ ﺗﺮﺟﻤﺎﻥ ﺍﻟﺠﻨﺎﻥ ﻓﻜﻦ ﺻﺪﻭﻕَ ﺍﻟﻠﺴﺎﻥ ﻃﺎﻫﺮ ﺍﻟﺠﻨﺎﻥ .
Lisan adalah merupakan gambaran hati, maka jadilah dirimu pribadi yang memiliki lisan yang jujur,suci hati.
.
- Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz -
Berkah Birrul Walidain | BERBAKTI KEDUA ORANG TUA
(Kalam Al Alim Al Allamah Al Arifbillah Al Habib Segaf bin Muhammad bin Umar as-Segaf)
***********
Syahdan, Pada suatu kamis pagi, Al-Qutub Habib Segaf bin Muhammad bin Umar as-Segaf, memberikan dars ilmiah bertema bakti kepada kedua orang tua di majlis taklimnya, di kubah Habib Abdullah bin Ali as-Segaf yang di simak bejibun orang.
Ia membuka darsnya dengan memberikan tahdir (peringatan) kepada hadirin, “Hati-hati. Jangan pernah mendurhakai kedua orang tua. Sebab amarah mereka memantik azab Allah SWT yang kontan, tidak ditunda. Jika mau, kutunjukkan kepada kalian orang-orang yang dulunya durhaka kepada orang tua agar kalian tahu bagaimana kenaasan kini selalu menggelayuti mereka.” Habib Segaf mengulang ancamannya ini berkali-kali dengan amat serius. Beliau terus melanjutkan, “Barangsiapa menghendaki kebahagiaan di dunia dan akhirat, hendaklah ia berbakti kepada kedua orang tuanya. Sungguh, aku telah merasakannya.” Kemudian beliau menyebut sejumlah nama dari orang-orang yang dikenal berbakti kepada orang tua disertai kisah bahagianya, berkat orang tua tentunya.
“Setiap perbuatan yang dilakukan seseorang terhadap kedua orang tuanya, kelak akan dibalas oleh anak-anaknya. Demi Allah, aku telah menyaksikan semua itu dengan jelas.” Jelas Habib Segaf.
HAKIKAT BIRRUL WALIDAIN
“Meminta yang berlebihan kepada kedua orang tua termasuk durhaka.” lanjut beliau. “Bakti dalam hati lebih utama dari bakti dengan tingkah laku. Maksudnya, rasa bakti dan hormat kepada orang tua harus terus bersemayam di hati, sedang lisan dan tubuh sekadar pelaksana. Dalam keyakinanku, bakti yang hakiki adalah menempatkan orang tua diatas diri kita sendiri, bahkan anak-anak kita. Hatta seumpama kita disuruh memilih, siapa yang sebaiknya meninggal, anak atau orang tua kita, Maka, meninggalnya anak kita lebih kita harap daripada meninggalnya orang tua kita. Nah inilah birrul walidain yang sejati.
Jangan sangsi, kebahagiaan abadi bakal diraih dengan bakti kepada orang tua. Mereka, para pemilik mata batin menyaksikan sendiri bukti shahihnya.
Coba perhatikan firman Allah SWT berikut ini,
ﺃَﻥِ ﺍﺷْﻜُﺮْ ﻟِﻲ ﻭَﻟِﻮَﺍﻟِﺪَﻳْﻚَ ﺇِﻟَﻲَّ ﺍﻟْﻤَﺼِﻴﺮُ
“Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Lukman;14)
Di ayat ini Allah SWT memakai redaksi (wa) yang berarti “dan” sebagai konjungsi, bukan (tsumma) yang berarti “kemudian”. Maksudnya kurang lebih-wallahu a’lam, syukur kepada Allah SWT tidaklah cukup bila tidak beriring dengan syukur kepada kedua orang tua. Sebab mereka berdua berperan sebagai sebab wujudnya kita.
Barangsiapa menelaahi al-Qur’an dan mencermati kandungan ayat-ayatnya dengan seksama, ia akan yakin bahwa bakti kepada kedua orang tua adalah sumber segala kebajikan dan merupakan amal yang paling utama. Dalam risalah qusairiyah diceritakan, dahulu ada seorang lelaki yang suka berbuat nista. Hari-harinya selalu diisi dengan maksiat. Suatu hari ia sakit parah. Merasa ajalnya dekat, ia berwasiat kepada ibundanya. “Wahai ibuku, jika aku mati, jangan beritahu siapapun perihal kematianku, sebab semua orang sudah pasti bakal mencelaku. Aku mohon juga, injakkan kaki ibu di salah satu telingaku, lalu berujarlah, “ini balasan orang bejat yang suka bermaksiat.” Lalu bayarlah beberapa orang untuk memandikan, mengkafani lalu menguburkanku. Jika aku sudah di dalam kubur, berdirilah di kuburanku dan berserulah tiga kali, “Wahai tuhanku, sesungguhnya aku meridhai anakku ini. maka, ridhailah dia!”
Ketika si anak meninggal, sang ibu melaksanakan semua wasiatnya. Terakhir, ia berdiri di atas pusara buah hatinya dan menyerukan kalimat yang telah dipesankan seraya menengadahkan tangan. Tak dinyana, baru saja sang ibu selesai munajat, ia mendengar kumandang suara dari langit. “Aku ridha kepada anakmu”
Aku ketengahkan kisah ini kembali sebagai teladan bagi kalian yang mengharapkan kebahagiaan akhirat. Soalnya, kini kebanyakan dari kita sudah lupa akan nilai birrul walidain. Padahal, kebanyakan musibah dan bencana yang menimpa kita saat ini adalah akibat perbuatan durhaka kepada ibu-bapak. Ya, saat ini uququl walidain merajalela. Jadinya, orang-orang masa kini tak mendapatkan keberkahan, baik di dunia maupun akhirat.
Durhaka kepada kedua orang tua tergolong dosa besar. Tak ada amal yang bisa menebusnya, kecuali tobat yang benar-benar tulus. Maka, kuperingatkan diriku sendiri secara khusus, serta semua orang, agar berusaha sekuat tenaga berbakti kepada orang tua selagi masih ada, kedua-duanya atau salah satunya. Sebab tak lama lagi mereka akan meninggalkan kita. Mari manfaatkan kesempatan yang ada untuk berbakti, agar kita beruntung di dunia dan akhirat.
***********
Syahdan, Pada suatu kamis pagi, Al-Qutub Habib Segaf bin Muhammad bin Umar as-Segaf, memberikan dars ilmiah bertema bakti kepada kedua orang tua di majlis taklimnya, di kubah Habib Abdullah bin Ali as-Segaf yang di simak bejibun orang.
Ia membuka darsnya dengan memberikan tahdir (peringatan) kepada hadirin, “Hati-hati. Jangan pernah mendurhakai kedua orang tua. Sebab amarah mereka memantik azab Allah SWT yang kontan, tidak ditunda. Jika mau, kutunjukkan kepada kalian orang-orang yang dulunya durhaka kepada orang tua agar kalian tahu bagaimana kenaasan kini selalu menggelayuti mereka.” Habib Segaf mengulang ancamannya ini berkali-kali dengan amat serius. Beliau terus melanjutkan, “Barangsiapa menghendaki kebahagiaan di dunia dan akhirat, hendaklah ia berbakti kepada kedua orang tuanya. Sungguh, aku telah merasakannya.” Kemudian beliau menyebut sejumlah nama dari orang-orang yang dikenal berbakti kepada orang tua disertai kisah bahagianya, berkat orang tua tentunya.
“Setiap perbuatan yang dilakukan seseorang terhadap kedua orang tuanya, kelak akan dibalas oleh anak-anaknya. Demi Allah, aku telah menyaksikan semua itu dengan jelas.” Jelas Habib Segaf.
HAKIKAT BIRRUL WALIDAIN
“Meminta yang berlebihan kepada kedua orang tua termasuk durhaka.” lanjut beliau. “Bakti dalam hati lebih utama dari bakti dengan tingkah laku. Maksudnya, rasa bakti dan hormat kepada orang tua harus terus bersemayam di hati, sedang lisan dan tubuh sekadar pelaksana. Dalam keyakinanku, bakti yang hakiki adalah menempatkan orang tua diatas diri kita sendiri, bahkan anak-anak kita. Hatta seumpama kita disuruh memilih, siapa yang sebaiknya meninggal, anak atau orang tua kita, Maka, meninggalnya anak kita lebih kita harap daripada meninggalnya orang tua kita. Nah inilah birrul walidain yang sejati.
Jangan sangsi, kebahagiaan abadi bakal diraih dengan bakti kepada orang tua. Mereka, para pemilik mata batin menyaksikan sendiri bukti shahihnya.
Coba perhatikan firman Allah SWT berikut ini,
ﺃَﻥِ ﺍﺷْﻜُﺮْ ﻟِﻲ ﻭَﻟِﻮَﺍﻟِﺪَﻳْﻚَ ﺇِﻟَﻲَّ ﺍﻟْﻤَﺼِﻴﺮُ
“Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Lukman;14)
Di ayat ini Allah SWT memakai redaksi (wa) yang berarti “dan” sebagai konjungsi, bukan (tsumma) yang berarti “kemudian”. Maksudnya kurang lebih-wallahu a’lam, syukur kepada Allah SWT tidaklah cukup bila tidak beriring dengan syukur kepada kedua orang tua. Sebab mereka berdua berperan sebagai sebab wujudnya kita.
Barangsiapa menelaahi al-Qur’an dan mencermati kandungan ayat-ayatnya dengan seksama, ia akan yakin bahwa bakti kepada kedua orang tua adalah sumber segala kebajikan dan merupakan amal yang paling utama. Dalam risalah qusairiyah diceritakan, dahulu ada seorang lelaki yang suka berbuat nista. Hari-harinya selalu diisi dengan maksiat. Suatu hari ia sakit parah. Merasa ajalnya dekat, ia berwasiat kepada ibundanya. “Wahai ibuku, jika aku mati, jangan beritahu siapapun perihal kematianku, sebab semua orang sudah pasti bakal mencelaku. Aku mohon juga, injakkan kaki ibu di salah satu telingaku, lalu berujarlah, “ini balasan orang bejat yang suka bermaksiat.” Lalu bayarlah beberapa orang untuk memandikan, mengkafani lalu menguburkanku. Jika aku sudah di dalam kubur, berdirilah di kuburanku dan berserulah tiga kali, “Wahai tuhanku, sesungguhnya aku meridhai anakku ini. maka, ridhailah dia!”
Ketika si anak meninggal, sang ibu melaksanakan semua wasiatnya. Terakhir, ia berdiri di atas pusara buah hatinya dan menyerukan kalimat yang telah dipesankan seraya menengadahkan tangan. Tak dinyana, baru saja sang ibu selesai munajat, ia mendengar kumandang suara dari langit. “Aku ridha kepada anakmu”
Aku ketengahkan kisah ini kembali sebagai teladan bagi kalian yang mengharapkan kebahagiaan akhirat. Soalnya, kini kebanyakan dari kita sudah lupa akan nilai birrul walidain. Padahal, kebanyakan musibah dan bencana yang menimpa kita saat ini adalah akibat perbuatan durhaka kepada ibu-bapak. Ya, saat ini uququl walidain merajalela. Jadinya, orang-orang masa kini tak mendapatkan keberkahan, baik di dunia maupun akhirat.
Durhaka kepada kedua orang tua tergolong dosa besar. Tak ada amal yang bisa menebusnya, kecuali tobat yang benar-benar tulus. Maka, kuperingatkan diriku sendiri secara khusus, serta semua orang, agar berusaha sekuat tenaga berbakti kepada orang tua selagi masih ada, kedua-duanya atau salah satunya. Sebab tak lama lagi mereka akan meninggalkan kita. Mari manfaatkan kesempatan yang ada untuk berbakti, agar kita beruntung di dunia dan akhirat.
Inginkan Anak Yang Sholeh dan Sholehah
Rangkuman pesan singkat AlHabib Abdullah bin Abdurrahman Al-Muhdor (Hadromout)
• Jika kita ingin memliki anak yang soleh; Jadilah anda orang yang soleh, Pilihlah perempuan yang soleha untuk menjadi istri anda Dan pastikan makanan anda benar-benar halal agar benih yang keluar dari tubuh anda benar-benar baik Dan jika kreteria di atas sudah ada ibarat bibit yang baik dengan tanah yang subur yang akan menghasilkan tanaman-tanaman yang subur pula , tetapi sebaliknya jika bibitnya jelek tanahnya tidak subur maka akan hanya mengahsilkan tanaman-tanaman yang tidak baik sebagaimana Allah SWT berfirman :
( ﻭَﺍﻟْﺒَﻠَﺪُ ﺍﻟﻄَّﻴِّﺐُ ﻳَﺨْﺮُﺝُ ﻧَﺒَﺎﺗُﻪُ ﺑِﺈِﺫْﻥِ ﺭَﺑِّﻪِ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻱ ﺧَﺒُﺚَ ﻟَﺎ ﻳَﺨْﺮُﺝُ ﺇِﻟَّﺎ ﻧَﻜِﺪًﺍ ) ”
Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana” (QS al A’raf: 59)
• Jangan melihat wanita hanya dari wajahnya saja ukurlah wanita itu dengan hati anda jangan dengan nafsu , sekiranya apakah pantas wanita tersebut menjadi ibu dari anak-anak anda sebagaimana Rosulullah SAW bersabda : ﺇﺧﺘﺎﺭﻭﺍ ﻟﻨﻄﻔﻜﻢ ﻓﺎﻥ ﺍﻟﻌﺮﻕ ﺩﺳّﺎﺱ
Pilihlah dengan benar wanita yang akan mengandung anakmu karena watak(wanita) itu akan turun kepada anakmu
• Dan orang yang soleh yang mendapatkan istri soleha ketika dia meninggal dunia Allah SWT yang akan menjaga anak-anaknya sebagaimana :
# Kakek Rosulullah hasyim yang menikah dengan perempuan soleha lalu dia meninggal dan memiliki anak abdul mutholib yang di katakan mujabud da'wah(doanya selalu di qobulkan oleh Allah SWT)
• Janganlah memilih wanita yang tidak memiliki rasa malu walaupun dia cantik tapi lihatlah wanita itu dari agamanya .
• Jika kita ingin memliki anak yang soleh; Jadilah anda orang yang soleh, Pilihlah perempuan yang soleha untuk menjadi istri anda Dan pastikan makanan anda benar-benar halal agar benih yang keluar dari tubuh anda benar-benar baik Dan jika kreteria di atas sudah ada ibarat bibit yang baik dengan tanah yang subur yang akan menghasilkan tanaman-tanaman yang subur pula , tetapi sebaliknya jika bibitnya jelek tanahnya tidak subur maka akan hanya mengahsilkan tanaman-tanaman yang tidak baik sebagaimana Allah SWT berfirman :
( ﻭَﺍﻟْﺒَﻠَﺪُ ﺍﻟﻄَّﻴِّﺐُ ﻳَﺨْﺮُﺝُ ﻧَﺒَﺎﺗُﻪُ ﺑِﺈِﺫْﻥِ ﺭَﺑِّﻪِ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻱ ﺧَﺒُﺚَ ﻟَﺎ ﻳَﺨْﺮُﺝُ ﺇِﻟَّﺎ ﻧَﻜِﺪًﺍ ) ”
Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana” (QS al A’raf: 59)
• Jangan melihat wanita hanya dari wajahnya saja ukurlah wanita itu dengan hati anda jangan dengan nafsu , sekiranya apakah pantas wanita tersebut menjadi ibu dari anak-anak anda sebagaimana Rosulullah SAW bersabda : ﺇﺧﺘﺎﺭﻭﺍ ﻟﻨﻄﻔﻜﻢ ﻓﺎﻥ ﺍﻟﻌﺮﻕ ﺩﺳّﺎﺱ
Pilihlah dengan benar wanita yang akan mengandung anakmu karena watak(wanita) itu akan turun kepada anakmu
• Dan orang yang soleh yang mendapatkan istri soleha ketika dia meninggal dunia Allah SWT yang akan menjaga anak-anaknya sebagaimana :
# Kakek Rosulullah hasyim yang menikah dengan perempuan soleha lalu dia meninggal dan memiliki anak abdul mutholib yang di katakan mujabud da'wah(doanya selalu di qobulkan oleh Allah SWT)
• Janganlah memilih wanita yang tidak memiliki rasa malu walaupun dia cantik tapi lihatlah wanita itu dari agamanya .
TAUSIYAH HABIB TAUFIQ ASSEGAF
"Sebagai tamsil, jika kita masuk ke kebun binatang kemudian di situ ada pagar pembatas yang membatasi antara kita dengan kandang singa, kita tidak berani mendekatinya karena khawatir menjadi santapan singa tersebut.
Anehnya, mengapa batas-batas yang telah digariskan oleh Allah, masih saja didekati bahkan diterjang? Tidakkah muncul perasaan takut masuk ke dalam neraka-Nya, menghadapi beragam siksa yang maha pedih di dalamnya. Kita takut kepada singa tapi kebencian, laknat, dan kemarahan Allah tidak kita khawatiri...."
Anehnya, mengapa batas-batas yang telah digariskan oleh Allah, masih saja didekati bahkan diterjang? Tidakkah muncul perasaan takut masuk ke dalam neraka-Nya, menghadapi beragam siksa yang maha pedih di dalamnya. Kita takut kepada singa tapi kebencian, laknat, dan kemarahan Allah tidak kita khawatiri...."
Kalam Mutiara Al Alim Al Mahbub Al Alamah Al Musnid Al Habib Umar Bin Hafidz.
"Jika sebelumnya kau sedikit melakukan sholat dan puasa sunnah, maka perbaikilah kekuranganmu dengan banyak bersholawat kepada Rosululloh SAW, andaikata sepanjang hidupmu engkau melakukan segala jenis keta'atan dan kemudian Allah SWT bersholawat kepadamu sekali saja maka satu sholawat Allah ini akan mengalahkan semua amalmu itu. Sebab, engkau bersholawat kepada Rosululloh sesuai dengan kekuatanmu, sedangkan Allah SWT bersholawat kepadamu sesuai dengan kebesaran-NYA. Ini jika Allah SWT bersholawat kepadamu sekali, lalu bagaimana jika Allah SWT membalas setiap shalawatmu dengan sepuluh shalawat sebagaimana yang disebutkan dalam Hadits Shohih .. ??!!!?
Betapa indah hidup ini jika kau isi dengan keta'atan kepada Allah swt, dengan beribadah, berdzikir kepada-NYA dan bersholawat kepada Rosululloh SAW."
Betapa indah hidup ini jika kau isi dengan keta'atan kepada Allah swt, dengan beribadah, berdzikir kepada-NYA dan bersholawat kepada Rosululloh SAW."
Langganan:
Postingan (Atom)