Dosa di Lidah: Adu Domba dan Ghibah yang Sering Tidak
Disadari
Lidah adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah berikan
kepada manusia. Dengan lidah, seseorang bisa membaca Al-Qur’an, berdzikir,
mengajar, dan menyampaikan kebaikan. Namun di sisi lain, lidah juga bisa
menjadi penyebab seseorang terjerumus ke dalam dosa besar tanpa ia sadari.
Banyak orang merasa dirinya baik-baik saja karena tidak
mencuri, tidak berzina, dan tidak melakukan dosa besar lainnya. Tetapi tanpa
disadari, lisannya setiap hari menyakiti orang lain. Inilah yang sering disebut
sebagai dosa lidah.
Ghibah: Mengumpat yang Dianggap Biasa
Ghibah adalah menyebutkan keburukan saudara kita di
belakangnya, sesuatu yang jika ia mendengarnya maka ia tidak menyukainya.
Walaupun yang dibicarakan itu benar, tetap saja termasuk ghibah.
Dalam kehidupan sehari-hari, ghibah sering dianggap hal
biasa. Berkumpul bersama teman, lalu mulai membicarakan kekurangan orang lain.
Awalnya hanya bercanda, lama-lama menjadi kebiasaan.
Padahal dosa ghibah sangat besar. Bahkan dalam ajaran Islam,
ghibah diibaratkan seperti memakan bangkai saudara sendiri. Ini menunjukkan
betapa beratnya dosa tersebut.
Yang lebih berbahaya lagi, ghibah sering dilakukan oleh
orang-orang yang rajin beribadah. Shalatnya rajin, puasanya jalan, tetapi
lisannya tidak dijaga.
Adu Domba (Namimah): Perusak Persaudaraan
Selain ghibah, dosa lidah yang sangat berbahaya adalah adu
domba atau namimah. Yaitu menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain
dengan tujuan merusak hubungan di antara mereka.
Contohnya: “Si Fulan sebenarnya tidak suka denganmu.” “Dia
pernah berkata begini tentang kamu.”
Perkataan seperti ini bisa memicu kebencian, pertengkaran,
bahkan permusuhan yang panjang. Banyak persahabatan hancur, keluarga retak, dan
hubungan rusak karena adu domba.
Adu domba bukan sekadar menyampaikan berita. Ia adalah api
yang membakar persaudaraan.
Mengapa Dosa Lidah Sangat Berbahaya?
Ada beberapa alasan mengapa dosa lidah sangat berbahaya:
1. Mudah dilakukan – Tidak butuh tenaga, hanya berbicara.
2. Sering tidak terasa – Pelakunya merasa itu hal biasa.
3. Dampaknya luas – Bisa merusak banyak orang sekaligus.
4. Sulit ditarik kembali – Kata-kata yang sudah keluar tidak
bisa dihapus.
Luka karena senjata mungkin bisa sembuh. Tetapi luka karena
perkataan terkadang membekas seumur hidup.
Cara Menjaga Lisan
Menjaga lisan memang tidak mudah, tetapi bisa dilatih.
Berikut beberapa cara yang bisa diamalkan:
Berpikir sebelum berbicara: Apakah ini bermanfaat atau
tidak?
Jika ragu, lebih baik diam.
Perbanyak dzikir agar lisan terbiasa dengan kebaikan.
Ingat bahwa setiap perkataan dicatat oleh malaikat.
Orang yang selamat adalah orang yang mampu mengendalikan
lisannya.
Mari kita introspeksi diri. Jangan sampai amal ibadah kita
yang sudah banyak rusak karena dosa yang kita anggap kecil. Ghibah dan adu
domba mungkin terlihat ringan, tetapi di sisi Allah dosanya sangat besar.
Semoga Allah menjaga lisan kita, membersihkan hati kita, dan
menjadikan kita termasuk orang-orang yang selalu berkata baik atau memilih
diam.
